Senin, 31 Agustus 2026

Kembalinya Sherlock Holmes

 Oleh: Aurel Novia


Judul: The Return of Sherlock Holmes / Kembalinya Sherlock Holmes
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit Asli: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit: Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270
Bulan dan Tahun Terbit: Juni 1993
ISBN: 979-511-779-3

Kembalinya Sherlock Holmes merupakan kumpulan cerita detektif karya Sir Arthur Conan Doyle yang kembali menghadirkan Sherlock Holmes setelah sebelumnya dianggap telah meninggal dalam pertarungannya dengan Professor Moriarty di Air Terjun Reichenbach. Kembalinya Holmes menjadi kejutan bagi sahabat sekaligus rekannya, Dr. John Watson. Setelah mengetahui bahwa Holmes ternyata masih hidup, Watson kembali mengikuti berbagai penyelidikan yang dilakukan oleh sang detektif. Dengan kemampuan observasi, penalaran logis, dan kecerdasannya, Holmes kembali memecahkan berbagai kasus yang tampak sulit untuk dipahami.

Buku ini terdiri atas 13 cerita pendek dengan kasus yang berbeda-beda. Setiap cerita menghadirkan misteri, petunjuk tersembunyi, serta proses penyelidikan yang membuat pembaca ikut mencoba menemukan jawaban sebelum Holmes mengungkapkannya.

Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah hubungan antara Holmes dan Watson. Watson tidak hanya berperan sebagai teman dan pendamping Holmes, tetapi juga menjadi narator yang membantu pembaca memahami berbagai kasus dari sudut pandangnya.

Salah satu kekuatan utama Kembalinya Sherlock Holmes terletak pada cara Arthur Conan Doyle membangun misteri melalui berbagai petunjuk yang tersebar di sepanjang cerita. Holmes tidak menyelesaikan kasus hanya berdasarkan keberuntungan, tetapi menggunakan kemampuan observasi dan deduksi untuk menghubungkan berbagai informasi yang pada awalnya terlihat tidak berkaitan.

Karakter Sherlock Holmes digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas, observatif, dan percaya pada kekuatan logika. Ia mampu memperhatikan detail kecil yang sering kali tidak disadari oleh orang lain. Kemampuan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam setiap kasus yang dihadapinya.

Di sisi lain, Dr. Watson memiliki peran yang tidak kalah penting. Melalui sudut pandang Watson, pembaca dapat mengikuti proses penyelidikan Holmes secara lebih mudah. Watson juga membuat karakter Holmes terasa lebih manusiawi karena ia sering kali menunjukkan kekaguman, kebingungan, dan rasa penasaran terhadap kemampuan sahabatnya.

Selain unsur misteri, buku ini juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan dan kemampuan berpikir dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan. Pembaca diajak untuk memperhatikan detail dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.

Setiap cerita memiliki kasus dan penyelesaian yang berbeda, sehingga pembaca tidak mudah merasa bosan. Beberapa kasus bahkan memberikan kejutan pada bagian akhir karena penyelesaian yang diberikan Holmes tidak selalu sesuai dengan dugaan awal pembaca.

Kelebihan Buku

  • Alur misterinya menarik dan mampu membuat pembaca penasaran terhadap penyelesaian setiap kasus.
  • Karakter Sherlock Holmes sangat kuat, terutama melalui kemampuan observasi dan deduksinya.
  • Hubungan Holmes dan Watson terasa menarik, karena keduanya memiliki karakter dan peran yang berbeda tetapi saling melengkapi.
  • Setiap cerita menghadirkan kasus yang berbeda, sehingga pembaca mendapatkan variasi dalam membaca.
  • Banyaknya petunjuk dalam cerita membuat pembaca dapat ikut mencoba memecahkan misteri bersama Holmes.
  • Buku tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis, memperhatikan detail, dan menggunakan logika.

Kekurangan Buku

  • Adapun beberapa kekurangannya, antara lain:
  • Beberapa cerita menggunakan bahasa dan gaya penulisan yang cukup kuno, terutama karena karya ini berasal dari awal abad ke-20.
  • Beberapa kasus memiliki alur penyelesaian yang cukup cepat, sehingga pembaca mungkin merasa bahwa proses pemecahan misterinya berakhir terlalu singkat.
  • Tidak semua cerita memiliki tingkat ketegangan yang sama, sehingga ada beberapa bagian yang terasa lebih menarik dibandingkan cerita lainnya.
  • Beberapa karakter pendukung tidak dikembangkan secara mendalam karena cerita lebih berfokus pada kasus dan proses penyelidikan Holmes.
  • Pembaca yang tidak terbiasa dengan cerita detektif klasik mungkin membutuhkan waktu untuk mengikuti istilah dan gaya penceritaan yang digunakan.

Secara keseluruhan, buku karya Sir Arthur Conan Doyle ini  merupakan kumpulan cerita detektif klasik yang menarik dan cocok bagi pembaca yang menyukai misteri serta proses pemecahan kasus. Melalui 13 cerita yang berbeda, pembaca diajak mengikuti Sherlock Holmes dalam menyelesaikan berbagai kasus menggunakan kemampuan observasi, logika, dan deduksinya.

Meskipun beberapa cerita menggunakan gaya bahasa yang cukup klasik dan memiliki penyelesaian yang relatif singkat, buku ini tetap menjadi salah satu karya detektif yang menarik untuk dibaca. Kembalinya Sherlock Holmes tidak hanya menawarkan kisah misteri, tetapi juga menunjukkan pentingnya ketelitian, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita misteri, detektif, kriminal, dan teka-teki, terutama bagi mereka yang ingin mengenal kembali sosok Sherlock Holmes melalui kumpulan kasus yang penuh dengan petunjuk dan kejutan. 

 

Jumat, 28 Agustus 2026

Belajar Sains Sambil Membuat Laporan, Siswa SD Pertiwi Eksplorasi Alat Peraga PP-IPTEK SULSEL


MAKASSAR
— Sebanyak delapan siswa peserta ekstrakurikuler Sains SD Pertiwi Makassar melakukan kunjungan edukatif ke Layanan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (28/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk belajar sains melalui praktik langsung sekaligus melatih kemampuan literasi melalui tugas penyusunan laporan.

Rombongan yang dipimpin guru pembina ekstrakurikuler Sains, Rizki Amalia, diterima langsung oleh Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa diajak mengenal dan mencoba berbagai alat peraga interaktif yang tersedia di layanan PP-IPTEK. Kegiatan dirancang tidak hanya untuk memberikan pengalaman praktik, tetapi juga mendorong siswa memahami konsep sains melalui pengamatan secara langsung.

Salah satu pengelola layanan PP-IPTEK, Desy Selviana, memberikan penjelasan mengenai fungsi, cara kerja, dan konsep sains yang terdapat pada sejumlah alat peraga. Penjelasan tersebut menjadi bekal bagi siswa dalam melakukan pengamatan sekaligus menyusun laporan yang menjadi tugas dari guru pembina ekstrakurikuler.

Setiap siswa mendapat tugas membuat laporan mengenai satu alat peraga interaktif yang berbeda. Dengan demikian, siswa tidak sekadar mencoba alat peraga, tetapi juga dituntut mengamati cara kerjanya, memahami konsep yang diterapkan, mencatat informasi penting, kemudian mengolahnya menjadi sebuah laporan kunjungan.

Para siswa kemudian mencoba sejumlah alat peraga, di antaranya Harpa Tanpa Dawai, Bola Listrik, Robot Halang Lintang, Jembatan Nan Kokoh, dan Gyro Extreme. Mereka tampak antusias bergantian mencoba wahana edukatif tersebut sambil mengamati cara kerja dan mencatat informasi yang diperlukan untuk tugas laporan.

Salah satu alat peraga yang menarik perhatian siswa adalah pesawat sederhana katrol. Para siswa bergantian mengoperasikan sistem katrol sambil mempelajari prinsip kerjanya. Melalui praktik tersebut, siswa dapat melihat secara langsung penerapan konsep pesawat sederhana dalam membantu mempermudah pekerjaan.

Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin, menyambut baik antusiasme para siswa selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, keberadaan alat peraga interaktif dapat menjadi sarana pembelajaran yang membantu siswa mengenal konsep sains dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

“Kami juga menyediakan demo sains sebagai bagian dari layanan edukasi di PP-IPTEK. Kami berharap pada kunjungan berikutnya, kegiatan demo sains ini dapat kami tampilkan sehingga anak-anak bisa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan interaktif,” ujar Sri Wahyuni.

Kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas. Siswa tidak hanya memperoleh informasi secara teori, tetapi terlibat langsung dalam proses mengamati, mencoba, memahami, mencatat, dan menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh melalui laporan.

Bagi Rizki Amalia selaku guru pembina ekstrakurikuler Sains, tugas laporan menjadi bagian penting dari kunjungan tersebut. Selain memperkuat pemahaman siswa terhadap konsep sains, kegiatan ini juga melatih ketelitian dalam melakukan pengamatan serta kemampuan menyusun informasi berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh.


Kunjungan edukatif tersebut menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang memadukan sains dan literasi. Melalui pengalaman langsung di PP-IPTEK, siswa tidak hanya diajak mengenal cara kerja berbagai alat peraga, tetapi juga belajar mengolah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

12 Siswa SDIT Al Ihsan Makassar Belajar Sains Interaktif di PP-IPTEK Perpustakaan Sulsel


MAKASSAR — Sebanyak 12 siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Ihsan Makassar bersama dua guru pendamping mengunjungi Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin Km 7, Talasalang, Jumat (28/8/2026).

Kunjungan edukatif tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, sekaligus menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Selain mengakses layanan perpustakaan, para siswa juga mengikuti kegiatan pembelajaran sains di layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK).

Kepala SDIT Al Ihsan Makassar, Sumiati, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Menurutnya, kegiatan di luar kelas dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan literasi sekaligus memperluas pengetahuan siswa melalui pengalaman langsung.

“Melalui kunjungan edukatif seperti ini, kami berharap minat baca, wawasan, dan budaya literasi anak-anak dapat terus berkembang sejak dini,” ujar Sumiati.

Saat berada di layanan PP-IPTEK, rombongan disambut Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin.


Para siswa kemudian diajak mengenal berbagai konsep sains melalui demonstrasi dan alat peraga interaktif. Kegiatan diawali dengan sejumlah eksperimen sederhana, di antaranya demonstrasi “Naga Api” dan “Gaya Sentrifugal”.

Setelah menyaksikan demonstrasi, siswa diberi kesempatan mencoba secara langsung berbagai alat peraga yang tersedia. Suasana semakin meriah ketika mereka bergantian mengeksplorasi wahana edukatif, seperti Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme.

Melalui wahana tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga diajak memahami konsep-konsep sains melalui pengalaman langsung. Pembelajaran menjadi lebih interaktif karena siswa dapat melihat, mencoba, dan merasakan sendiri prinsip sains yang dijelaskan.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif mengikuti setiap eksperimen dan menunjukkan rasa ingin tahu saat mencoba satu per satu alat peraga yang tersedia.

Sri Wahyuni mengapresiasi antusiasme para siswa selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, rasa ingin tahu dan keberanian mencoba merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran sains.

“Kami senang bisa berbagi pengetahuan dengan anak-anakku sekalian. Semangat belajar seperti ini perlu terus dijaga,” katanya.


Kegiatan di layanan PP-IPTEK turut didukung mahasiswa dan siswa magang yang membantu pelaksanaan kegiatan, yakni Aurel Novia dan Firyal Amatullah dari Jurusan Bahasa Inggris serta Fely Aulia Pertiwi dari Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Makassar. Selain itu, kegiatan juga didukung Hernita dari SMK Negeri 4 Takalar.

Kamis, 27 Agustus 2026

Lovasket 3: The Final Game

 Oleh: Fely Aulia Pertiwi

   


Perjalanan menuju pertandingan final tentu tidak selalu berjalan dengan mudah. Para tokoh harus menghadapi berbagai tekanan, persaingan, dan persoalan yang dapat menguji hubungan mereka. Di sinilah nilai persahabatan dan kerja sama menjadi penting. Mereka harus belajar untuk saling percaya dan tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi. Perjuangan tersebut membuat pertandingan dalam cerita terasa lebih dari sekadar permainan bola basket, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan para tokoh dalam menghadapi masalah dan menjadi lebih dewasa.

Bagian yang menarik dari cerita adalah bagaimana pertandingan final menjadi titik penting bagi para tokoh. Mereka harus memberikan kemampuan terbaik dan membuktikan hasil dari latihan serta perjuangan yang telah dilakukan. Situasi pertandingan juga dapat menimbulkan rasa tegang karena kemenangan dan kekalahan ditentukan dalam waktu yang terbatas. Pembaca dibuat penasaran dengan hasil akhir pertandingan dan bagaimana para tokoh menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Menurut saya sebagai pembaca, Loyasket 3: The Final Game memiliki daya tarik karena menggabungkan olahraga dengan kehidupan remaja. Bola basket tidak hanya digunakan sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari konflik dan perjalanan para tokoh. Cerita seperti ini juga dapat memberikan gambaran bahwa untuk mencapai sebuah kemenangan diperlukan kerja keras, disiplin, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain.

Selain itu, kisah dalam buku ini dapat memberikan motivasi kepada pembaca, terutama bagi mereka yang menyukai olahraga. Perjuangan para tokoh menunjukkan bahwa keberhasilan tidak dapat diperoleh secara instan. Dibutuhkan latihan, keberanian menghadapi kegagalan, dan kemauan untuk terus berusaha. Nilai persahabatan juga menjadi salah satu bagian yang menarik karena dalam sebuah tim, setiap orang harus mampu mengesampingkan ego dan saling mendukung.

Kelebihan Buku

  • Gaya cerita yang mengangkat olahraga bola basket membuat buku ini menarik, terutama bagi pembaca yang menyukai cerita bertema olahraga.
  • Cerita mengandung nilai kerja sama, persahabatan, semangat pantang menyerah, dan perjuangan untuk mencapai tujuan.
  • Konflik yang berkaitan dengan pertandingan dapat membuat pembaca merasa penasaran terhadap hasil akhir yang akan diperoleh para tokoh.
  • Kehadiran pertandingan final menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan suasana yang lebih menegangkan dan membuat cerita terasa semakin penting menuju akhir.
  • Buku ini dapat memberikan motivasi kepada pembaca untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi persaingan maupun kegagalan.

Kekurangan Buku

  • Bagi pembaca yang kurang menyukai olahraga, terutama bola basket, beberapa bagian yang berhubungan dengan pertandingan mungkin terasa kurang menarik.
  • Cerita yang berfokus pada pertandingan dan kehidupan para pemain dapat membuat beberapa konflik terasa cukup mudah ditebak oleh pembaca yang sudah sering membaca novel bertema olahraga.
  • Beberapa bagian cerita akan lebih menarik apabila pengembangan karakter dan latar belakang setiap tokoh dibuat lebih mendalam sehingga pembaca dapat lebih memahami alasan dan perasaan mereka.

Secara keseluruhan, Loyasket 3: The Final Game merupakan novel yang cocok bagi pembaca yang menyukai cerita remaja dengan tema olahraga, khususnya bola basket. Ceritanya memberikan gambaran mengenai perjuangan, persahabatan, persaingan, dan semangat untuk mencapai kemenangan. Meskipun masih terdapat beberapa bagian yang dapat dikembangkan lebih dalam, buku ini tetap memberikan pengalaman membaca yang menarik dan pesan positif bagi pembacanya. Dari kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa kemenangan bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang proses, kerja keras, keberanian, dan kebersamaan dalam mencapai tujuan.

Loyasket 3: The Final Game 

Judul Buku: Loyasket 3: The Final Game
Jenis Buku: Fiksi / Novel Remaja bertema olahraga
Pengarang: Luna Torashtynq
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 376 Halaman 
ISBN: 978-979-22-7762-3
Bahasa: Indonesia



Alex's Symphony

 Oleh: Fely Aulia Pertiwi

Persahabatan, musik, dan perasaan cinta merupakan bagian dari kehidupan yang sering kali berjalan beriringan. Ketiganya dapat membawa seseorang pada pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai konflik dan pilihan yang tidak mudah. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dalam novel Alex’s Symphony karya Holy Eunike. Novel yang diterbitkan oleh Bhuana Sastra pada tahun 2014 ini mengangkat kehidupan seorang perempuan bernama Alex yang memiliki bakat dan kecintaan terhadap musik. Dengan menggabungkan kisah persahabatan, kehidupan di sekolah musik, dan persoalan perasaan, novel ini menghadirkan cerita yang ringan tetapi tetap memiliki konflik yang membuat pembaca penasaran. 

Cerita berpusat pada Alex, seorang perempuan yang memiliki bakat di bidang musik dan bersekolah di sebuah sekolah musik ternama. Di sekolah tersebut, Alex menjalani hari-harinya bersama dua sahabatnya, yaitu Rose dan Alan. Kehadiran kedua sahabat tersebut membuat kehidupan Alex menjadi lebih berwarna. Selain menjalani kegiatan dan pembelajaran musik, Alex juga mulai mengalami berbagai persoalan mengenai perasaan dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu bagian penting dalam cerita adalah ketika Alex mulai menyukai Vasili, seorang laki-laki yang terkenal di sekolahnya. Perasaan Alex terhadap Vasili menjadi salah satu konflik yang membuat kehidupan sekolahnya semakin menarik. Namun, keadaan kemudian menjadi lebih rumit ketika Alex bertemu dengan seorang pria bernama Stefan. Pertemuan tersebut membuat Alex menghadapi berbagai perasaan dan keadaan yang tidak selalu sesuai dengan apa yang ia bayangkan.

Konflik dalam cerita tidak hanya berkaitan dengan hubungan Alex dengan lawan jenis, tetapi juga dengan persahabatan dan kehidupan yang ia jalani sebagai seorang pelajar musik. Alex harus menghadapi berbagai perubahan dan belajar memahami perasaannya sendiri. Musik menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Seperti judulnya, kehidupan Alex dapat diibaratkan seperti sebuah simfoni yang terdiri atas berbagai nada. Ada nada yang menyenangkan, ada pula nada yang terdengar sedih atau penuh konflik. Semua pengalaman tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan Alex untuk semakin mengenal dirinya sendiri.

Menurut saya sebagai pembaca, salah satu hal yang menarik dari Alex’s Symphony adalah bagaimana musik digunakan sebagai bagian dari kehidupan tokoh utama. Cerita tidak hanya berfokus pada kisah cinta, tetapi juga memperlihatkan kehidupan Alex di lingkungan sekolah musik dan hubungannya dengan sahabat-sahabatnya. Hal tersebut membuat cerita terasa lebih beragam dan tidak hanya berkutat pada satu persoalan.

Bahasa yang digunakan dalam novel ini juga cukup mudah dipahami. Alurnya dapat membawa pembaca mengikuti kehidupan Alex dari satu kejadian ke kejadian berikutnya. Pembaca dapat ikut merasakan kebingungan, kebahagiaan, maupun masalah yang dialami oleh Alex. Kisah persahabatan Rose dan Alan juga memberikan warna tersendiri sehingga cerita tidak terasa terlalu monoton.

Kelebihan Buku

  • Gaya bahasa yang digunakan cukup ringan dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat mengikuti cerita dengan nyaman.
  • Cerita memiliki perpaduan antara musik, persahabatan, kehidupan sekolah, dan kisah perasaan sehingga tema yang diangkat cukup menarik.
  • Tokoh Alex memiliki perjalanan dan konflik yang membuat pembaca ingin mengetahui bagaimana ia menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya.
  • Penggunaan musik sebagai bagian dari kehidupan Alex menjadi daya tarik tersendiri dan membuat novel mempunyai ciri khas dibandingkan cerita remaja pada umumnya.
  • Alur cerita mampu membuat pembaca penasaran terhadap hubungan Alex dengan Vasili dan Stefan serta perkembangan kehidupan Alex selanjutnya.

Kekurangan Buku

  • Beberapa konflik dalam cerita, terutama yang berkaitan dengan hubungan dan perasaan antartokoh, terasa cukup umum sehingga tidak semuanya memberikan kejutan bagi pembaca.
  • Perkembangan beberapa tokoh pendukung masih terasa kurang mendalam karena cerita lebih banyak berpusat pada Alex.
  • Perpindahan konflik dalam cerita terkadang terasa cukup cepat sehingga beberapa bagian mungkin terasa kurang dijelaskan secara mendalam.
  • Bagi pembaca yang tidak terlalu tertarik dengan cerita bertema musik atau kisah percintaan remaja, beberapa bagian mungkin terasa kurang menarik.

Secara keseluruhan, Alex’s Symphony adalah novel fiksi yang cukup menghibur dan cocok bagi pembaca yang menyukai cerita tentang persahabatan, musik, kehidupan sekolah, dan kisah perasaan. Novel ini memiliki alur yang cukup menarik serta bahasa yang mudah dipahami. Meskipun masih terdapat beberapa kekurangan dalam pengembangan tokoh dan konflik, cerita Alex tetap mampu memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan. Bagi saya, novel ini juga mengajarkan bahwa kehidupan memang seperti sebuah simfoni: tidak selalu menghasilkan nada yang indah, tetapi setiap nada memiliki perannya masing-masing dalam membentuk sebuah lagu kehidupan.

Alex's Symphony

Judul Buku: Alex’s Symphony: Karena Hidup Bagaikan Alunan Melodi
Jenis Buku: Fiksi / Novel Remaja
Pengarang: Holy Eunike
Penerbit: Bhuana Sastra
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2014
Edisi: Edisi pertama
Ketebalan: sekitar 208–210 halaman
Ukuran: 19 cm
ISBN: 978-602-249-596-3
Bahasa: Indonesia


Siswa SD Negeri Kumala Makassar Rasakan Pengalaman Belajar Interaktif di Layanan Perpustakaan Sulsel



MAKASSAR — Sebanyak 50 siswa kelas 3 dan 4 SD Negeri Kumala Makassar didampingi tiga pendamping melakukan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (DispusArsip Sulsel), Jalan Sultan Alauddin Km 7, Talasalang, Kamis (2/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas peserta didik sekaligus menumbuhkan minat baca melalui pengalaman belajar yang lebih dekat, interaktif, dan menyenangkan.

Kepala sekolah SD Negeri Kumala, Ika Andriany, menyampaikan kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan mengenalkan peserta didik pada berbagai sumber informasi, tetapi juga memberikan pengalaman pembelajaran sains melalui layanan Science Center. Menurutnya, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan siswa dengan sumber pengetahuan sekaligus pengalaman belajar yang lebih praktis.

Rombongan disambut Plt. Kepala Bidang Perpustakaan sekaligus Kepala Seksi Layanan Umum dan Multimedia, Hj. Feby Primajanti Thamrin Tantu, di layanan perpustakaan umum. Dalam kesempatan tersebut, Feby memperkenalkan berbagai layanan perpustakaan yang dapat diakses masyarakat secara gratis.


Ia menjelaskan, siswa dapat berkunjung ke perpustakaan pada hari Senin hingga Jumat tanpa harus didampingi pihak sekolah. Perpustakaan juga dapat dikunjungi bersama keluarga sehingga siswa memiliki kesempatan untuk menjadikan perpustakaan sebagai salah satu ruang belajar di luar sekolah.

Usai mendapatkan pengenalan layanan perpustakaan, para siswa diajak berkeliling melihat berbagai fasilitas yang tersedia. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK).

Di layanan PP-IPTEK, rombongan disambut Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin. Para siswa mendapatkan pengalaman belajar sains melalui sejumlah demonstrasi dan alat peraga interaktif.


Kegiatan diawali dengan demonstrasi beberapa eksperimen sederhana, di antaranya Air Ajaib yang Tidak Tumpah, Kantong Plastik Antibocor, dan Gelas Terbalik. Setelah itu, siswa diberi kesempatan mencoba secara langsung berbagai alat peraga yang tersedia.

Antusiasme siswa terlihat ketika mereka bergantian mencoba wahana edukatif, seperti Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme. Melalui wahana tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat memahami konsep sains melalui pengalaman langsung.

Sri Wahyuni mengapresiasi antusiasme para siswa yang aktif mengikuti eksperimen dan mencoba berbagai alat peraga selama kegiatan berlangsung. “Kami senang bisa berbagi pengetahuan dengan anak-anakku sekalian. Semangat belajar seperti ini perlu terus dijaga,” katanya.


Salah satu wahana yang paling diminati siswa adalah Gyro Extreme. Wahana tersebut memberikan pengalaman simulasi layaknya astronot di luar angkasa sekaligus memperkenalkan konsep gyroscope kepada peserta.

Melalui wahana itu, siswa diperkenalkan pada prinsip gyroscope, yakni kemampuan benda yang berputar untuk mempertahankan orientasi atau arah serta melawan pengaruh gravitasi.

Kegiatan di layanan PP-IPTEK turut didukung mahasiswa dan siswa magang, yakni Aurel Novia dan Firyal Amatullah dari Jurusan Bahasa Inggris serta Fely Aulia Pertiwi dari Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Makassar, dan Hernita dari SMK Negeri 4 Takalar.


Kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang memadukan literasi, pengenalan layanan perpustakaan, dan pembelajaran sains secara interaktif. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diajak mengenal perpustakaan sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bereksplorasi, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman langsung. (*)

London, OMG!

Oleh: Firyal Amatullah Adziba Kirana

Perubahan lingkungan sering kali menjadi sesuatu yang menakutkan, terutama bagi anak-anak. Ketakutan akan kehilangan teman, rasa cemas terhadap budaya asing, serta kendala bahasa sering kali memicu penolakan. Asumsi inilah yang diangkat oleh Anugrah Rawiyah Salma dalam bukunya yang berjudul London, OMG! Diterbitkan oleh Noura Books pada tahun 2014, novel setebal 144 halaman ini menjadi salah satu karya yang menarik dalam seri Penulis Cilik Punya Karya (PCPK). Melalui sudut pandang seorang penulis cilik, buku ini berhasil menggambarkan dinamika emosi anak-anak dalam menghadapi perubahan hidup secara jujur, polos dan bermacam-macam kejadian.

Cerita berpusat pada tokoh Khaila, yang akrab disapa Ai. Ai yang semula tinggal di Indonesia tiba-tiba harus pindah ke London karena ayahnya mendapatkan beasiswa kuliah di London selama tiga tahun. Keluarganya harus ikut boyong ke London. Bagi Ai, keputusan ini adalah sebuah awal “bencana” yang memicu air mata. Namun, ketakutan tersebut perlahan mencair setibanya mereka di London. Berkat modal les bahasa Inggris yang pernah diikutinya di Indonesia, Ai dan Afgan (kakaknya) tidak terlalu kesulitan berkomunikasi. Lewat interaksi dengan budaya setempat, Ai justru mendapatkan banyak pengalaman baru. Alih-alih terasing, ia justru terjebak dalam berbagai pertualangan seru mengagumi keindahan kota.

Daya tarik utama dari novel ini terletak pada kekuatan narasinya yang sangat organik. Karena ditulis oleh seorang anak pra-remaja, Alma mampu menyuarakan isi hati anak-anak tanpa kesan menggurui. Bahasa yang digunakan sangat ringan, kasual, dan mengalir dengan lancer. Hal ini membuat pembaca, khususnya anak-anak, akan dengan mudah bersimpati dan terhubung dengan kecemasan yang dirasakan oleh Ai. Selain itu, pesan moral yang disisipkan sangat kuat. Buku ini dengan cerdas mengajarkan pentingnya keluar dari zona nyaman, melatih kemandirian, serta menumbuhkan sikap toleransi terhadap perbedaan budaya tanpa harus kehilangan identitas diri. Visualisasi buku yang khas dengan ilustrasi pendukung juga membuat pengalaman membaca menjadi jauh lebih interaktif dan tidak membosankan.

Meski demikian, buku ini juga terdapat kekurangan. Penggambaran latar kota London di dalam cerita terasa kurang dieksplorasi secara mendalam. Deskripsi mengenai detail arsitektur atau kebiasaan lokal cenderung masih berada di permukaan dan hanya berfokus pada ikon-ikon yang sudah umum diketahui masyarakat luas. Akibatnya, gaya khas London kurang terasa begitu hidup bagi pembaca yang mengharapkan pertualangan geografis yang mendetail.

Kelebihan Buku

·    Gaya bahasanya sangat mengalir, polos, dan sangat mudah dipahami oleh target pembaca usianya.

· Buku ini mengajarkan nilai kemandirian, keberanian menghadapi perubahan, dan pentingnya beradaptasi tanpa melupakan akar budaya asal.

·  Kemasan visual khas seri PCPK dari Noura Books membuat pembaca tidak mudah bosan dan betah membaca hingga halaman terakhir.

Kekurangan Buku

·   Penggambaran kota London di dalam buku ini masih cenderung standar dan berfokus pada tempat-tempat yang sudah umum diketahui, sehingga kurang memberikan detail atmosfer kota yang lebih spesifik atau mendalam.

·  Alur cerita yang sedikit tidak masuk akal. Menjelang akhir buku, ceritanya berubah menjadi kekerasan, trauma, dan penculikan, padahal untuk pembaca yang masih usia belia terkesan berlebihan dan terlalu gelap.

Secara keseluruhan, London, OMG! adalah sebuah bacaan yang sangat menghibur, sekaligus edukatif. Anugrah Rawiyah Salma berhasil membuktikan bahwa batasan usia bukanlah penghalang untuk melahirkan karya yang inspiratif. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh anak-anak usia sekolah dasar hingga remaja awal. Kisah Ai di dalamnya akan menjadi sumber semangat dan refleksi positif, terutama bagi anak-anak yang sedang atau akan menghadapi fase transisi dan perubahan besar di dalam hidup mereka, seperti pindah sekolah atau pindah rumah. Bagi yang ingin membaca buku ini, London, OMG! dapat ditemukan di Pusat Peraga IPTEK yang berada di lantai 2 Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan.


London, OMG!
Jenis Buku: Fiksi Anak / Novel Anak (Seri PCPK – Penulis Cilik Punya Karya)
Pengarang: Anugrah Rawiyah Salma (Alma)
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit dan Cetak: Tahun 2014 (Cetakan 1)
Ketebalan Buku: 144 Halaman
ISBN: 978-602-1606-77-3
 Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm